Merujuk pada data riset kesehatan 2008, Prof dr Tjandra Yoga Aditama sebagai Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan menggambarkan, prevalensi tumor/kanker di Indonesia ada-lah 4,3 per 1.000 penduduk. "Tumor/kanker adalah penyebab kematian nomor tujuh di Indonesia dengan persentase 5,7 persen," katanya.
Ia menjelaskan, pengendalian kanker oleh Kementerian Kesehatan dilakukan melalui empat kegiatan pokok, yaitu pencegahan faktor risiko, deteksi dini, surveillance epidemilogi, dan penyebaran informasi. "Saat ini program pengendalian kanker diutamakan pada kanker tertinggi, yaitu kanker leher rahim dan payudara," ujarnya.
Program itu dilakukan dengan proyek percontohan deteksi dini di enam provinsi (enam kabupaten) dan pengembangannya tengah berjalan di 11 kabupaten/kota. Di lain pihak, menurut dia, LSM melakukan kegiatan serupa di tujuh lokasi berbeda.Memerangi kanker bukan perkara mudah.
Menurut Tjandra, banyak hambatan yang harus dihadapi, misalnya kurangnya informasi masyarakat tentang kanker; rendahnya kesadaran untuk pencegahan; dan adanya persepsi tidak benar, seperti kanker tidak dapat disembuhkan, kanker merupakan penyakit memalukan, bahkan percaya terhadap klenik dalam pengobat-annya. Ada pula persepsi soal diperlukan biaya tinggi untuk pengobatannya. "Padahal tidak selalu demikian halnya." Jadi, menurut dia, pengendalian kanker yang efektif adalah dengan memberikan informasi seluas-luasnya bahwa kanker dapat dicegah, dengan mengetahui faktor risikonya, serta melakukan pencegahan primer, sekunder, dan tersier secara terpadu.