header_left header_center1
header_center2
header_banner2
header_bottom
 
 
 
 
 
Jumat, 20 Juli 2012
Hari Hepatitis Sedunia ke-3


Pada 19 Juli 2012  Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI  membuka Seminar Hepatitis dalam rangka Hari Hepatitis Sedunia ke-3. Pada Seminar untuk pimpinan rumah sakit dan Institusi Pendidkan di DKI Jakarta ini saya sampaikan antara lain :

  1. Seminar ini diselenggarakan karena dalam waktu yang tidak lama lagi kita akan memperingati World Hepatitis Day (Hari Hepatitis Sedunia) pada tanggal 28 Juli dan peringatan pada tahun 2012 ini adalah peringatan Hari Hepatitis Sedunia Ke-3. Tanggal 28 Juli dipilih karena merupakan tanggal kelahiran Dr. Baruch S. Blumberg yang  menemukan virus Hepatitis B pada tahun 1965 dan yang  mengembangkan vaksin Hepatitis B, serta  memperoleh Hadiah Nobel pada tahun 1976 untuk penemuannya itu.
  2. Hepatitis merupakan program yang perlu kita kembangkan, karena sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk di Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar Biomedis yang dilakukan oleh Badan Litbangkes tahun 2007 menunjukkan prevalensi Hepatitis B sebesar 9,4%, ini menandakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan endemisitas tinggi. (Negara dengan HBsAg (+) > 8% merupakan negara dengan endemisitas tinggi).
  3. Tahun 2012 ini , peringatan  Hari Hepatitis Sedunia mengambil tema “Masalah Hepatitis sudah di depan mata”. Tema ini diambil dari tema yang dikeluarkan oleh World Hepatitis Alliance : It”s closer than you think. Tema ini sangat relevan dengan fokus Pembangunan Kesehatan periode 2010-2014 yang antara lain menitik-beratkan pada upaya promotif – preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif – rehabilitatif, meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, dan menurunkan angka  kesakitan dan kematian akibat penyakit menular.  
  4. Hepatitis adalah penyakit yang dapat dicegah dan diobati. Salah satu cara pencegahan adalah pemberian imunisasi. Imunisasi Hepatitis B telah dimulai di Indonesia sejak tahun 1997- yang juga mencakup pemberian imunisasi pada bayi baru lahir atau birth dose. Dimulainya Imunisasi Hepatitis B merupakan awal dari dimulainya upaya Pengendalian Hepatitis di Indonesia dan dewasa ini upaya ini ditingkatkan dengan upaya lainnya, seperti promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS, penapisan darah donor oleh PMI dan  pengembangan jejaring surveilans epidemiologi Hepatitis. Selain itu, ke depan, perlu dikaji tentang berbagai upaya pengembangan program sehingga komplikasi lebih lanjut yaitu sirosis Hepatitis dan kanker hati dapat dicegah yang pada akhirnya angka kematian karena Hepatitis virus dapat diturunkan, selanjutnya, pengetahuan dan kepedulian masyarakat tentang cara pencegahan, cara penularan, serta  bahaya penyakit Hepatitis juga perlu ditingkatkan.
  5. Rumah Sakit dapat menambah wawasan mengenai Hepatitis virus dari para narasumber yang nantinya kami harapkan dapat berguna untuk penyelenggaraan program pengendalian Hepatitis di Rumah Sakit. Rumah Sakit yang biasanya berperan pada upaya kuratif,  dapat pula meningkatkan peran promotif, preventif pada layanan perseorangan, keluarga maupun kelompok risiko yang telah memiliki akses ke Rumah Sakit antara lain petugas kesehatan, ibu hamil, dan IDUs. Diharapkan segera terwujud akses penderita untuk mendapatkan pelayanan yang tepat, bermutu  dan terjangkau. Bagi dunia pendidikan, juga diharapkan adanya penambahan kurikulum Hepatitis virus pada institusi pendidikan.
  6. Prof. Tjandra mengajak masyarakat untuk men jadikan peringatan Hari Hepatitis Sedunia ke-3 ini sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian dan pengetahuan tentang Hepatitis, sehingga pengembangan program Hepatitis di Indonesia dapat berhasil mencapai tujuannya yaitu menurunkan angka kesakitan dan kematian karena Hepatitis.  

Sumber : Subdit Surveilans dan Respon KLB

 
   

Copyright©2010 Ditjen PP&PL - Kementerian Kesehatan R.I.